Aku relawan

Friday, April 21, 2006

Jurnal 23 : Liburan ke Pulau Mangir dan Peucang

Melakukan pekerjaan sosial tanpa melupakan liburan menyenangkan adalah salah satu hal yang paling disenangi oleh relawan KKS Melati. Segera setelah selesai melakukan kegiatan peresmian perpustakaan kedua di desa Tunggal Jaya, kami segera berkemas untuk bermalam di pulau yang pertama, Pulau Mangir.

Pulau Mangir letaknya berdekatan dengan Pulau Umang, Pulau Owar, dan Pulau Badur. Ditempuh dengan perjalanan kapal selama 1 jam, kamipun sampai kesana. Pulau Mangir adalah sebuah pulau kosong dan tidak banyak wisatawan yang singgah disini. Pulau ini dulunya adalah tempat bersarangnya berbagai jenis burung terutama jenis kalong yg bergantung pada dahan pohon. Saat ini memang masih banyak kalong di pulau ini tetapi rasanya tidak banyak suara burung yang kami dengar. Entah kenapa.

Di pulau ini kami bermalam dengan tenda. Ada 7 tenda seluruhnya yang dibangun oleh tim-gerak cepat”nya Pak Edi. Menurut Dessy, mereka adalah anak-anak SMA yang bekerja untuk AGM dan selama 3 hari itu sedang belajar untuk melakukan pelayanan bagi para tamu, sebuah pelajaran yang sangat baik untuk mengorganisasikan kegiatan kepariwisataaan. Mereka bekerja dengan luar biasa, mendirikan tenda, memasak untuk seluruh rombongan, mencari ikan untuk makan malam, dan bolak-balik mengantarkan kami dari kano ke kapal. Bagiku, mereka adalah sebuah tim yang sangat riang gembira dan bekerja dengan penuh semangat dan energi yang luar biasa.

Sementara tenda didirikan, sebagian relawan sibuk berenang, snorkling dan bermain air. Sebagian lagi pergi mencari sunset. Sebagian lagi sibuk mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun. « wah pasti menyenangkan mendirikan api unggun di tepi pantai », pikirku.

Benar saja, begitu malam datang, kami makan malam sambil berkumpul mengelilingi api unggun, saling ngobrol dan mengenal lebih dalam. Kate tampak menikmati mengobrol dengan para relawan Melati dan kami benar-benar membuatnya tidak merasa asing meskipun kami bernyanyi dan mengobrol terlalu banyak dalam Bahasa Indonesia, sedangkan pengetahuan Bahasa Indonesianya masih sangat terbatas.

Seusai api unggun padam, sebagian relawan ikut mencari ikan di laut. Mereka pergi ke bagan (germal) di tengah laut dan ada pula yang memancing dari kapal. Dua ekor anak hiu macan, satu ikan kakap dan satu ikan karang berhasil mereka bawa pulang. Aku percaya ini adalah pengalaman yang menyenangkan untuk mereka.

Pagi hari datang ditemani angin yang cukup kencang. Beberapa tenda rubuh karena deraan angin. Untunglah sudah pagi, sehingga kami tidak perlu mendirikan tenda lagi. Akhirnya dengan terpal seadanya kami duduk-duduk di tepi pantai, sambil menunggu sunrise. Teman-teman fotografer tidak kalah lincah memanfaatkan momen ini.

Begitu pagi sudah menjelang, makan pagipun siap. Kami segera menggulung tenda dan memasukkan kembali perlengkapan, kami bersiap pergi ke pulau yang jaraknya 2 jam dari pulau ini, Pulau Peucang.


Pulau Peucang adalah salah satu pulau yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), terletak di ujung bagian barat daya Pulau Jawa, termasuk dalam wilayah Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten. TNUK adalah kawasan yang ditetapkan menjadi situs warisan dunia (the world heritage site) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini memiliki luas 122.956 hektar dan berada pada ketinggian antara 0 – 608 meter di atas permukaan laut (dpl), terdiri dari 3 tipe ekosistem yaitu perairan laut, pesisir pantai, dan daratan. Lebih dari 700 jenis tumbuhan terpelihara dengan baik di sini, termasuk 57 jenis tanaman langka. Disamping itu, TNUK juga merupakan ‘rumah’ dari jenis satwa langka seperti Banteng (Bos javanicus), Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus), Lutung (Presbytis cristata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), Gibon Jawa (Hylobates moloch), Anjing Hutan (Coun alpinus), Kucing Batu (Felis bengalensis), Harimau (Panthera trigis), Suruli (Presbity aygula) selain 270 jenis burung. Fauna tersebut merupakan sisa terakhir fauna asli hutan hujan datatan rendah di Jawa. Tak heran, TNUK juga kerap menjadi area penelitian flora dan fauna langka.

Peucang sendiri adalah sebuah pulau kecil di wilayah TNUK, mengambil nama dari sejenis siput yang sering ditemukan di pantainya. Penduduk setempat biasa menyebutnya ‘mata peucang’. Nama Peucang juga diambil dari nama sejenis rusa yang mendiami pulau ini. Untuk memasuki kawasan TNUK, setiap pendatang wajib membayar retribusi dan tiket wisata dengan harga relatif murah di kantor PHPA di Labuan. Namun kali ini saya beserta rombongan tak perlu memikirkan segala biaya itu karena sudah diurus Pak Edi dari AGM.

Kedatangan kami di dermaga Pulau Peucang pagi itu disambut kerumunan lutung (Trachypithecus auratus auratus) yang begitu riang berlompatan dan kawanan rusa (Cervus timorensis) yang berkeliaran di sekitar kantor pengelola TNUK Pulau Peucang. Berbeda dengan Pulau Mangir, di pulau ini tersedia wisma untuk menginap.

Pasir pantai Pulau Peucang berwarna putih dengan laut hijau muda kebiru-biruan. Warna biru lautnya sangat ideal untuk kegiatan berenang, menyelam, memancing, atau snorkeling. Begitu kami tiba, rasanya laut sudah memanggil-manggil kami untuk segera berenang. Marie yang sejak tadi sudah duduk di atas kapal segera terjun ke laut, disusul teman-teman lainnya.

Setelah puas berenang, snorkeling dan foto-foto, rombongan dibagi menjadi dua. Sebagian ingin berjalan-jalan ke dalam hutan, sebagian lagi ingin pergi melihat air terjun di Citerjun. Pak Ajat, jagawana yang sudah bekerja di Pulau Peucang selama 21 tahun menemani kami menyusuri hutan.

Hutan Pulau Peucang merupakan salah satu ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah. Flora di kawasan ini diantaranya merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), dan ki hujan (Engelhardia serrata). Selain itu juga ada pohon Ficus atau kiara pencekik, tumbuhan parasit yang melilit pohon lain untuk hidup. Biasanya pohon inangnya akan mati jika ficusnya menjadi dewasa.

Di kedalaman hutan ini banyak sekali jejak babi hutan (Sus verrucosus). Kami juga menemukan sarang babi hutan yang baru saja melahirkan. Menurut Pak Ajat, seekor babi hutan dapat melahirkan enam ekor anak sekaligus. Sayangnya kami tidak diperbolehkan mendekati sarang itu karena dianggapnya terlalu berbahaya.

Tak terasa perjalanan kami sudah sampai 1 km. Sebenarnya ingin meneruskan perjalanan hingga ke Karang Copong yang katanya sangat indah di waktu sunset, tetapi karena terbatasnya waktu, terpaksa kami kembali lagi ke pantai. Kami kembali menembus hutan, menemui pohon-pohon tinggi, mengagumi untaian akar-akar raksasa lagi dan tentunya berfoto-foto lagi di tengah kerindangan pepohonan. Kami juga menemukan pohon mangga hutan, buahnya kecil-kecil dan rasanya agak asam. Marie sibuk mengambili buah mangga hutan yang berjatuhan untuk diberikan kepada para lutung.

Perjalanan pulang dari Pulau Peucang menuju Sumur sudah lewat tengah hari. Pak Edi pimpinan perjalanan hari ini mengatakan bahwa kapal tumpangan kami akan melawan ombak dan kami harus bersiap untuk berbasah ria selama perjalanan. Benar saja, Ombak besar siang itu terasa menggoyang seisi kapal. Meski basah kuyup terkena terpaan air laut dan mata terasa pedih, kami masih bisa menikmati keindahan pemandangan laut dan kepulauan disana lengkap dengan burung camar yang beterbangan mencari ikan di laut dan sejenis kupu-kupu aneh yang terbang bebas di laut lepas. By Rini, relawan KKS Melati [RN, 170406]